Sensus penduduk (SP) tahun 2010 di Kabupaten Lamongan akan melibatkan sejumlah 2.343 petugas pencacah lapangan. Mereka akan mulai bekerja melakukan pendataan pada 1-31 Mei 2010. Data tersebut diungkapkan Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Lamongan Mohammad Khudori saat sosialisasi terkait SP 2010, Kamis pagi (25/3) yang dibuka Bupati Masfuk di Ruang Sasana Nayaka Pemkab Lamongan.
Masfuk sendiri mengharapkan agar pelaksanaan SP 2010 di Lamongan didukung semua unsur. Bukan hanya petugas dari BPS saja. Karena menurutnya data dari SP tersebut akan menjadi tolak ukur untuk mengambil kebijakan.
“Data dari sensus ini akan sangat penting artinya untuk menentukan perencanaan program pembangunan. Sehingga diharapkan data yang didapat adalah data yang berkualitas. Karena itu saya minta camat untuk membantu melakukan sosialisasi. Ini adalah gawe besar 10 tahun sekali yang harus didukung penuh, “ tegasnya dalam sosialisasi yang dihadiri Wabup Tsalits Fahami dan semua camat di Lamongan itu.
Sementara Khudori dalam paparannya mengungkapkan ada sejumlah perbedaan antara SP kali ini dibanding SP tahun 2000. Diantaranya penambahan jumlah variable kuesioner dari yang sebelumnya 15 variabel menjadi 43 variabel. Selain itu, kini peta yang digunakan adalah peta digital berdasar citra satelit dengan menggunakan global positioning system (GPS).
“Ini adalah program nasional setuap 10 tahun sekali. Sesudah kemerdekaan, SP telah dilakukan lima kali. Mulai SP tahun 1961, 1971, 1980, 1990 dan SP 2000. Pencatatan penduduk ini akan dilakukan secara aktif oleh petugas pendata dengan mendatangi dari rumah ke rumah. Kemudian datanya akan digunakan sebagai kerangka contoh induk dan basis utama prou\yeksi penduduk 2010-2020. Selain itu juga sebagai bahan evaluasi millennium development goals (MDGs) serta untuk menetapkan target pembangunan selanjutnya, “ urai dia sambil menambahkan pengolahan data akan rampung pada Desember 2010 nanti.
Selanjutnya dipaparkannya jumlah penduduk Lamongan sejak SP pertama tahun 1961. Pada SP 1961, jumlah penduduk Lamongan sebanyak 771.954 jiwa, SP 1971 menjadi 907.767 jiwa. Kemudian SP 1980 bertambah menjadi 1.049.956 jiwa, SP 1990 naik jadi 1.138.713 dan SP tahun 2000 penduduk Lamongan berjumlah 1.181.660 jiwa. “Khusus untuk anggota masyarakat yang bertempat tinggal tidak tetap akan didata pada malam hari, “ tambahnya.
Secara nasional, SP tahun 2010 akan mencakup wilayah di 33 provinsi, 471 kabupaten/kota, 6.523 kecamatan, 88.361 desa/kelurahan dan sekitar 64 juta responden rumah tangga atau sekitar 232 juta penduduk. Sementara SP 2000 mencakup 27 provinsi, 341 kabupaten/kota, 4.029 kecamatan, 68.045 desa/kelurahan dan sekitar 52.572.600 responden rumah tangga atau setara sekitar 205 juta jiwa. Sedangkan di Lamongan akan berlangsung di 27 kecamatan dan 474 desa/kelurahan.
Senin, 29 Maret 2010
Kamis, 25 Maret 2010
Raih Penerapan e-Government Terbaik
Kembali Lamongan menerima penghargaan dari Gubernur Jawa Timur. Kali ini Lamongan dinobatkan sebagai kabupaten terbaik se Jawa Timur dalam penerapan E-Government. Penghargaan tersebut diberikan oleh Sekdrapov Jatim Rasiyo saat Rapat Konsolidasi dan Sinkronisasi Program Bidang Komunikasi dan Informatika Jatim di Hotel Utami, Surabaya. Seperti diuangkapan Kepala Kantor Pengelolaan Data Elektronik (KPDE) Hurip Tjahyono melalui Kabag Humas dan Infokom Aris Wibawa, penghargaan itu diberikan kepada Kabupaten Lamongan karena beberapa Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) dalam pelayanan kepada masyarakat banyak yang sudah menggunakan sarana jaringan terkoneksi. Penghargaan tersebut juga untuk memberikan apresiasi sekaligus motivasi kepada daerah yang sudah menerapkan eGovernment dengan bagus. “Di Lamongan saat ini sudah banyak SKPD dalam menjalankan administrasi pemerintahannya yang berbasis e-Government” ujar dia. Diantaranya adalah KPDE lewat websitenya yang selalu diupdate dengan berbagai informasi terbaru terkait penyampaian program pembangunan maupun penyerapan input aspirasi dari masyarakat. Selain itu, 14 dari sejumlah 27 kecamatan di Lamongan sudah tercover oleh teknologi informasi. “Selain itu hampir seluruh pelayanan administrasi baik kesehatan maupun kependudukan sudah menerapkan dan berbasis elektronik. Misalnya, Sistem Akutansi Keuangan yang kini sudah on line, layanan perijinan, layanan kependudukan seperti pembuatan KTP dan KSK. Kemudian juga layanan aplikasi rumah sakit, pustronik, serta Puskesmas Mail Box. Bahkan direncanakan tahun 2010 ini akan dimulai layanan Arsip dan Perpustakaan elektronik, “ imbuhnya. Lamongan sendiri meraih predikat ini untuk kategori kabupaten/kota dengan sumber daya sedang. Sedangkan Kota Surabaya terbaik pertama untuk kategori sumber daya besar dan Kota Blitar terbaik untuk kategori sumber daya kecil. Ada tujuh kriteria yang akan dinilai. Yakni pengelolaan website Pemkab Lamongan, manajemen kepemimpinan pegnembangan eGovernment dan inovasi yang dilakukan. Kemudian perubahan yang berlangsung dalam kegiatan pemerintahan yang didorong oleh penerapan eGovernment, pemanfaatan TI dalam kegiatan pelayanan publik serta keterhubungan antar instansi melalui TI dan prestasi yang diraih.
Musrenbang Prioritaskan Kebutuhan Dasar
Bupati Lamongan Masfuk, Rabu (24/3) membuka Musyawarah Perencanaan Pembangunanan (Musrenbang) dalam rangkan penyusunan Rencana Kerja Pembangunan Daerah Tahun 2011 di Pendopo Lokatantra setempat. Ini adalah Musrenbang terakhir yang dibukanya karena pada Agustus 2010 nanti masa jabatannya di periode kedua kepemimpinannya akan berakhir. Dalam arahannya, ia berpesan agar Kabupaten Lamongan tetap memprioritaskan pembangunan pada empat kebutuhan dasar. Yakni pendidikan, kesehatan, infrastruktur serta mengentas dan memberdayakan masyarakat miskin. “Jadikan empat dasar ini sebagai pedoman dalam melangkah. Namun yang lebih penting lagi adalah dalam mewujudkan empat dasar ini jangan dengan pikiran normatif dan biasa-biasa saja. Jika itu (langkah normatif) yang dilakukan maka semuanya akan stagnan karena hanya mengandalkan anggaran yang terbatas, “ tegasnya. Ditambahkannya, selama kepemimpinannya telah banyak yang telah diwujudkan. Termasuk mewujudkan sesuatu yang sebelumnya dianggap mustahil diwujudkan. Namun dia juga tidak memungkiri masih ada yang harus dibenahi. “Kesuksesan pembangunan tidak bisa dilepaskan dari peran masyarakat dan kerja keras semua aparat pemerintah. Sementara apa yang masih harus dibenahi adalah sesuatu yang manusiawi, “ ujar dia. Dia lalu mencontohkan terwujudnya pembangunan rumah sakit di Ngimbang yang tidak menggunakan langkah-langkah normatif. “Jika hanya mengandalkan APDB Lamongan saja, rumah sakit untuk masyarakat di wilayah selatan ini tidak akan pernah bisa terwujud. Karena Lamongan hanya punya dana sekitar Rp 900 juta saja. Namun dengan langkah yang tidak biasa dan kerja keras akhirnya bisa meyakinkan pemerintah pusat. Sehingga terwujudlah RS Ngimbang yang menelan anggaran hinga Rp 40 miliar, “ ujarnya dalam kegiatan yang diikuti Wabup Tsalits Fahami, Sekkab Fadeli, SKPD, Camat dan unsur perwakilan masyarakat tersebut. Sementara Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Ismunawan dalam laporannya menyebutkan usulan belanja langsung tahun 2011 yang bersumber dari APBD Lamongan mencapai Rp 784,66 miliar. Sementara yang bersumber dari APBD Pemprov Jatim Rp 53,56 miliar dan dari APBN mencapai Rp 227,97 miliar. “Usulan ini berdasar Forum Gabungan SKPD yang sebelumnya telah didahului Musrenbang tingkat desa, kecamatan hingga Forum SKPD, “ tambah dia. Terkait proyeksi kemampuan fiskal Kabupaten Lamongan tahun 2011 lebih lanjut diuraikan Plt Kepala Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset (DPPKA) Herry Pranoto. Untuk pendapatan asli daerah (PAD) angka perkiraan sementara tahun 2011 Rp 76,37 miliar, atau turun 18,81 persen dibanding proyeksi PAD 2009 yang ditarget Rp 94,06 miliar. Penurunan ini terutama dipengaruhi turun drastisnya proyeksi komponen Lain-lain Pendapatan Yang Sah yang turun hingga 34,98 persen. Sementara proyeksi Pendapatan Daerah diperkirakan naik 0,32 persen dari Rp 881.98 miliar di 2010 menjadi Rp 884,83 miliar di tahun 2011. Selanjutnya komponen Belanja Daerah diperkirakan turun 4,87 persen dari Rp 942,03 miliar menjadi Rp 898,06 miliar. “Semua ini adalah angka perkiraan sementara, “ ujarnya. Bappedaprov Jatim Tegaskan BKD Program Pemprov Jatim Sementara Kepala Bidang Pengembangan Regional Bappedaprov Jatim Suci Purnomo di kesempatan yang sama menegaskan bahwa program cash transfer yang diwujudkan dalam kegiatan Program Bantuan Keuangan Pemprov Jatim Kepada Desa. Itu disampaikannya saat memaparkan prioritas pembangunan di Jatim. Penegasan yang sama sebelumnya disampaikan Kepala Bappedaprov Jatim Hadi Prasetyo lewat suratnya terkait program tersebut yang diakui oleh sejumlah pihak dengan berbagai dalih. Sedangkan terkait arahan pengembangan wilayah Kabupaten Lamongan, dia menyebutkan sejumlah pembangunan fisik yang diperlukan untuk menunjang industri di pantura Lamongan. Mulai pembangunan jalan tol Gresik-Paciran hingga rencana pembangunan perkeretaapian double track (jalur ganda). “Pengembangan Lamongan Integrated Shorebase (LIS) perlu ditunjang dengan pembangunan tol Gresik-Paciran, “ ujarnya. Kemudian untuk pengembangan kawasan agropolitan yang untuk Lamongan ditetapkan di wilayah selatan akan difasilitasi pemasarannya dengan pembangunan Pasar Induk Agrobis Jatim, yakni Puspa Agro. Sementara untuk pengembangan wisata akan diupayakan dengan paket sinergi wisata lokal antara Wisata Bahari Lamongan (WBL) dengan ikon wisata lokal Jatim lainnya seperti Gunung Bromo. Dipaparkannya kemudian, tingkat kemiskinan di Lamongan tahun 2009 sudah turun menjadi 25,79 persen. Sedangkan tingkat pengangguran terbuka (TPT) mencapai 4,92 persen yang merupakan salah satu TPT terendah di Jatim. Demikian pula tingkat pertumbuhan ekonomi Lamongan tahun 2009 yang mencapai 5,28 persen berada di atas rata-rata pertumbuhan ekonomi Jatim yang berada di angka 5,01 persen.
1.710 Pengawas Jaga UN 2010
Pelaksanaan ujian nasional (UN) tingkat SMA sederajat tahun ini di Lamongan melibatkan 1.710 pengawas. Di setiap 855 ruangan ujian yang digunakan masing-masing diawasi dua orang pengawas. Jumlah itu belum termasuk pengawas independen dari perguruan tinggi yang dikoordinir Universitas Airlangga Surabaya. Di hari pertama UN yang mengujikan mata pelajaran (maple) Bahasa Indonesia, Bupati Masfuk bersama Wabup Tsalits Fahami dan Kadinas Pendidikan Mustofa Nur melakukan sidak di sejumlah lokasi. Sidak itu sendiri dilakukan di lima lokasi, yakni MAN Lamongan, SMAN 1, SMAN 2, SMKN 1 dan di SMA PGRI Lamongan. Dar kelima lokasi dak itu hanya di SMA PGRI dari sebanyak 355 peserta UN yang terdaftar, satu siswa, Tomy Dicki, tidak mengikuti ujian karena drop out. Sementara di empat lokasi ujian lainnya tidak ditemui siswa yang absen. Masfuk saat berada di SMAN 2 Lamongan menyatakan cukup optimis dengan tingkat kelulusan yang akan diraih siswa-siswi di Lamongan. Keyakinannya tersebut menurutnya didasarkan sejumlah try out dan berbagai persiapan menjelang UN yang telah dilakukan sekolah. “Tahun ini kami menargetkan tingkat kelulusan bisa mencapai 95 persen. Namun kami cukup optimis hasilnya akan diatas target seperti tahun lalu, “ katanya merujuk hasil UN tahun lalu yang tingkat kelulusannya mencapai 99,97 persen. UN tingkat SMA sederajat di Lamongan tahun ini menggunakan 855 ruang ujian. Di setiap ruang ujian dijaga dua orang pengawas dengan sistem silang penuh. Sehingga total ada 1.710 pengawas ruangan. Sementara peserta UN tahun 2010 ini sebanyak 20.237 siswa. Dengan rincian 6.146 siswa SMA, 9.841 siswa MA, 4.242 siswa SMK dan 8 siswa SMALB. Sementara pelaksanaan ujian akan dilangsungkan pada 22-26 Maret. Kemudian ujian susulan pada 29-1 Maret dan 1 serta 5 April. Selanjutnya ujian ulangan dilaksankan pada 10-14 Mei. Mapel yang diujikan hingga tiga hari kedepan sama untuk setiap sekolah dan jurusan. Yakni secara berurutan Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris dan Matematika. Kemudian untuk SMA jurusan program IPA selanjutnya akan ditambah ujian mapel Fisika, Kimia dan Biologi. Sedangkan program IPS mulai hari keempat akan diujikan mapel Ekonomi Sosiologi dan Geografi. Sementara program Bahasa ditambah mapel Sastra Indonesia, Sejarah Antropologi dan bahasa asing pilihan.
Senin, 22 Maret 2010
Terima Kungker Dua DPRD
Dua DPRD masing-masing dari Komisi II DPRD Kota Salatiga dan Komisi D DPRD Kabupaten Nganjuk kemarin (18/3) secara bersamaan melakukan lawatan kerja di Kabupaten Lamongan. Keduanya diterima Bupati Masfuk dan Wabup Tsalits Fahami bersama sejumlah Kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) di Ruang Sasana Nayaka setempat. Tujuh orang rombongan DPRD Kota Salatiga yang dipimpin Ketua Komisi II Bidang Anggaran dan Ekonomi Totok Suprapto dalam kunjungannya itu bermaksud belajar mengenai penataan pariwisata di Lamongan. Sementara pimpinan rombongan DPRD Kabupaten Nganjuk yang juga Ketua Komisi D, Soemardi, dalam sambutannya menyampaikan dia dan delapan legislator lainnya bermaksud untuk mengetahui penanganan ketahanan pangan di Lamongan. “Sebagai kota kecil yang diapit dua kota besar yakni Semarang dan Boyolali, Kota Salatiga sebenarnya memiliki potensi pariwisata yang bisa dikembangkan. Ini karena sejumlah daerah pinggiran di sekitar Kota Salatiga saat ini belum memiliki fasilitas wisata yang memadai. Jika hal ini bisa dimanfaatkan tentunya akan memberi manfaat yang besar untuk Kota Salatiga, “ ungkap Totok Suprapto. Disebutkannya pula, Kota Salatiga selama ini memang sudah terkenal dengan sebutan Kota Jasa Perdagangan, Kota Pendidikan dan Kota Transit Pariwisata. “Nah sebutan yang terakhir inilah yang akan coba kami kembangkan sehingga nantinya tidak sekedar jadi Kota Transit Pariwisata namun bisa jadi Kota Pariwisata. Semoga kami dapat ngangsu kaweruh (menimba ilmu) dari Lamongan yang sudah sukses dengan Wisata Bahari Lamongan, “ imbuh dia. Sementara Masfuk saat menyambut kungker dua DPRD itu menyampaikan sebenarnya kalimat yang lebih tepat adalah saling belajar. Karena selama ini seperti Kota Salatiga yang memiliki banyak kampus sudah dikenal sebagai Kota Pendidikan. Atau Kabupaten Nganjuk yang selama ini juga terkenal akan kesuburan tanahnya. “Kabupaten Lamongan bisa berkembang seperti sekarang ini sebenarnya berawal dari kepepet. Wilayahnya serba sulit karena sering kena banjir dan kekeringan sehingga banyak masyarakatnya yang merantau. Namun Alhamdulillah, yang serba kepepat itu malah memberi berkah sehingga memunculkan berbagai langkah terobosan dan inovasi. Mulai dari WBL yang menjadi pintu masuk bagi sejumlah investor selanjutnya di Lamongan. Karena dengan ramainya wisata kami bisa tunjukkan bahwa Lamongan adalah daerah yang aman dan nyaman untuk berinvestasi. Sementara keamanan dan kenyamanan menjadi satu poin penting investor mau masuk ke suatu daerah, “ terangnya panjang lebar.
Langganan:
Postingan (Atom)